• 29th septembre
    2014
  • 29
  • 23rd septembre
    2014
  • 23

What’s up with “lay” and “lie”?

theyuniversity:

image

Few topics in grammar and usage inspire as much dread and confusion as lay vs. lie. This post will allay your fears.

image

image

image

image

Need even more examples? Here you go:

  • When I get home, Iā€™m going to lie in the hammock and relax.
  • In which room should I lay the new rug?
  • Yesterday, my dog lay on my lap and took a long nap.
  • Jim has lain on the sofa since noon.
  • Every night, Finn lies on his bed and sleeps inside his sleeping bag.

image

  • 23rd septembre
    2014
  • 23
The secret to a happy life is giving Allah the first part of your day, the first priority to every decision, & the first place in your heart.
  • 23rd septembre
    2014
  • 23
  • 23rd septembre
    2014
  • 23

Karakter, What?

Karena pada akhirnya, karakter yang akan menentukan segalanya. Karakter yang akan membunuhmu atau mengangkatmu.

Dan karakter itu tumbuh dari suatu lingkungan. Karena keadaan dan faktor genetik.

Dunia profesional itu keras. Lo dipaksa untuk keluar dari karakter asli lo. Suka nggak suka. Karena lo butuh. Butuh apa? Butuh uang untuk kehidupan lo. Right?

Tetapi Tuhan itu Perencana Yang Paling Baik, bukan? Pasti ada alasan mengapa manusia diciptakan berbeda. Extrovert, introvert, mau dirayu, tidak suka dirayu, toleransi tinggi, toleransi rendah, dan sebagainya.

Gue adalah orang yang terlahir dengan karakter keras karena didikan bokap yang memang cukup keras semasa kecil. Membuat gue sulit mentoleransi. Gue juga cukup sulit untuk basa-basi. Nyokap berkali-kali menasihati bahwa karakter gue yang keras ini akan membahayakan ketika gue kerja.

Dan memang terbukti. Ada masalah cukup pelik, yang sebenarnya terjadi bukan karena gue, tapi karena ada aja orang yang suka ‘usil’ menguji orang lain. Lupa diri karena jabatan tinggi.

Tulisan ini untuk membela diri tentu saja. Buat gue, pekerjaan itu ada karena kebutuhan dan permintaan. Nggak semua orang cocok jadi salespeople, nggak semua orang tahan berjam-jam di laboratorium ngeliatin bakteri membelah diri, dan nggak semua orang tahan dengan polusi ibu kota yang membunuh.

Karena pada akhirnya, Tuhan lebih tahu siapa lo. Betul hubungan sesama manusia itu hal yang penting, tetapi setiap manusia terlahir dengan prinsip dan ideologi yang buat gue nggak bisa diganggu gugat.

Setiap orang bisa sukses dengan caranya masing-masing. Belum tentu orang yang selalu ramah dengan orang lebih baik dari orang yang eksklusif ataupun malas berinteraksi.

Setiap orang punya pilihan dan ya, gue nggak takut dengan pilihan dan prinsip hidup gue.

Itu aja.

  • 15th septembre
    2014
  • 15
  • 14th septembre
    2014
  • 14

Menjelang Hari Itu

Well well well, it’s H-sekian already and sooo many things happened lately. Well not that many, though, but still…things keep on changin’, no?

Try to record my memory on daily basis just for the sake of my serenity and sanity. Let’s started from…the bankruptcy. Ha.

Sejatinya menikah itu bisa dibikin nggak mahal, tapi…ya begitulah. Peer pressure haha. Hadeeeh. Belum lagi ditambah gue ngekos. Mesti beli tiket bolak-balik SOC-CGK yang ternyata muahaal. Kalau naik kereta harganya nggak jauh beda dan kalau naik bus kelamaan. Awal-awal ngekos juga gue pasti stress. Kalo stress pelariannya beli buku atau makan. BAHAYA BANGET NGGAK SIH LO MAU NIKAH DAN UANG LO DAN BADAN LO BERPOTENSI BERTAMBAH BERAT DI DETIK-DETIK MENJELANG PERNIKAHAN?

Hu, syedihnya tuh disini *nunjuk dompet dan timbangan

Udah mana novel yang gue beli jadi bikin gue makin kangen Bandung. Thanks a bunch to Pidi Baiq dan Adhitya Mulya! Ku pun makin pengen cepet-cepet S2 di luar negeri biar bisa nyaingin Mbak Hanum dan Mas Rangga bikin novel berdua sama…suami XD *ragu apakah doi bisa diajak berduet urusan beginian*

Sabtu kemaren gue seharian gogoleran di kosan. Gokil. I should get the certificate for mastering the art of doing nothing, soon…really soon, ck. Untung maag nggak kambuh gegara ngegadoin Indomie.

Gimana mau ngurus suami ya nanti ngurus diri sendiri aja begini banget recklessnya astaghfirullah :(

Ditambah lagi hari ini aku jatuh dan nyusruk dari motor. Tadaaa~

Lutut, kaki, dan telapak tangan terluka dan memar. Habis lah ku menangis kesakitan. Allah pun mengirimkan malaikat dalam bentuk nyokap temen yang main ke kosan dan nyokap temen gue ini apoteker! Apoteker AURI, bok, nggak main-main.

Diobatilah gue dan diberikan segala rupa makanan. Huhu bingung mesti ngasih upeti apa ntar buat keluarga temen gue yang udah super welcome banget selama gue di Solo :(

Yah intinya seru sih menjalani hal-hal yang nggak banyak orang mengalami. Masih mencoba mengumpulkan remah-remah semangat.

Cause happiest girl is the prettiest, period.

  • 10th septembre
    2014
  • 10

Omongan Tentang Itu Lagi

Emang betul kata orang, setahun pertama setelah lulus itu masanya pencarian jati diri yang “sebenarnya”.

Yang nganggur ya sibuk nyari kepastian selanjutnya.

Yang nikah ya bersiap dengan kehamilan pertama atau kegalauan antara jadi SAHM (Stay at Home Mom) atau WM (Working Mom) atau bersiap diboyong suami ke kota/negara lain atau malah bersiap dengan Long Distance Marriage.

Yang kerja sibuk beradaptasi dengan kerjaan. Nyari tau makna dari pekerjaan biar nggak kerasa sia-sia.

Yang S2 terus mengasah otak, tapi mungkin kehilangan kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu secepatnya.

Yang pasti…ada kerinduan.

Rindu Bandung.

Haha iyes I admit it, sulit move on ternyata dari kota itu. Sejuta kenangan terukir. Lagi sedih tinggal ngetok kamar sebelah. Lagi suntuk tinggal jalan ke PVJ. Lagi butuh penyegaran ke Salman. Atau sesederhana aja duduk di lorong depan lab ngeliatin orang lalu lalang dengan jas lab.

Ah, tapi sudahlah. Terlalu lama tinggal di masa lalu tidak akan membuat seseorang maju.

Ya emang…kangen sih. Rasanya pengen ngabur ke Lembang atau ngelilingin kampus.

Ck, Bandung.

  • 4th septembre
    2014
  • 04

Tidak Mudah

Tidak mudah adalah saat kesenangan dan kenyataan berbeda jauh

Tidak mudah adalah merasa mengerjakan segala sesuatu sendirian

Tidak mudah adalah menganggap diri kecil di antara target besar

Tidak mudah adalah melangkah jauh dari rumah, kembali merantau

Tidak mudah adalah sesuatu yang berbeda dari rencana semula

Tidak mudah adalah tidak bersyukur, lupa

Dan tidak mudah adalah…

pikiranmu sendiri. Ubah.

  • 4th septembre
    2014
  • 04